baginya telah pergi, sedihnya air mata yang menetes ke bumi, ia relakan dengan senang hati.Tiada yang ia ungkit kembali, tiada yang ia takuti. Masa lalunya adalah mimpi, yang datang karena ia lupa doa, dan sekarang mimpi itu tlah pergi, bersama dengan mata yang terjaga.
masa depan baginya masih panjang, terlalu panjang sampai ia ingin memutarnya dengan segera, jikalau ada mesin waktu, ia kan pergi ke saat di mana waktu itu tiba, saat yang sangat ia nanti, saat di mana cintanya mulai bersei.
Sekarang baginya seperti penjara, penjara yang penuh dengan bunga, di dalamnya ada banyak cerita, di dalamnya ada banyak cinta.
dialah sang wanita yang seang jatuh cinta. Tiada daya ia rengkuh sang pria, tiada daya ia oandang dengan tanpa ketakutan pada wajah teduh di hatinya. Ia lah wanita yang edang terpenjara, menunggu, menunggu, menunggu, dalam cemas dan gembira, karena tulisan Tuhan telah tergores, tulisan emas yang tak ia ketahui apa dan bagaimana, tulisan emas yang suatu saat nanti harus ia terima. Bagaimana jika itu di luar harapa? bagaimana jika cinta sekarang ini akan berbeda?
dia lah wanita yang sedang jatu cinta, baginya seribu kata tak cukup menggambarkan perasaan yang terbang inggi ke langit saat ini, senyumnya terus berkembang, tanpa pernah merasa layu, tanpa pula seperti mengenal layu. Dialah wanita yang sedang mekar, mekar sendiri tanpa serbuk sari, lalu kemudian menutup lagi.
dialh wanita yang sedang jatuh hati, yang sangat berani menulis puisi, karena tak tega ia membuang rasa ini dalam 'sampah' sepi, karena sahabat wanitanya pun tak akan mampu untuk membuat ia kembali dengan tanpa merasa pernah memiliki rasa ini.
Ia, wanita yang sedang jatuh hati, takut ia pada Tuhan, takut ia pada siksaan tapi tak kuasa pula ia menahan jari tuk mengungkapkan karena cinta ini suci, karena cinta tak pernah mengenal kata salah, karena cinta itu kebaikan, dan selamanya akan demikian.
ia, wanita yang sedang jatuh hati itu, hanya mampu merangkai kata ini, tanpa harapan akan dibaca olehnya, tanpa pernah mengira ia akan tahu rasa ini, ia, wanita yang sedang jatuh hati ini, hanya sedang tak mampu meluapkan hati, yang sedang terbang tingg tanpa ada satu manusia lain yang mengetahui.
wanita yang sedang jatuh cinta ini, pada akkhirnya meluapkan rasanya, dalam puisi.
|