Mawar hitam itu menatapku. Aku pun menatapnya. Kai bertatap muka dalam mendung dan sepinya taman manusia. Aku berdiam, dan ia mendekat. Bukan inginnya, tapi angin yang membawanya. Ia bgitu sabar, ia begitu indah, ia begitu perkasa. Aku yang sejak lama mengenal kamboja, masih belum mampu untuk menerimanya, namun, karna angin, karna burung, karna tangan manusia, karna serangga. Kami akhirnya bersama. Berbaur dalam sebuah ruang di dalam mahkota bunga. Berjalan bersama membentuk lembaga.
Mawar hitam itu sekarang milikku. mawar putih ini sekarang menjadi abu-abu. Warna apa yang kalian harap ada saat hitam dan putih menyatu? mungkinkah menjadi merah yang membara? aku tak mau. Mungkinkah menjadi hijau merona? itu daun namanya. Mungkinkah menjadi biru? aku tetap tak mau.
akulah mawar abu-abu dan aku meyukainya. Ini bukan karna dia, mawar hitam itu. Ini karena aku, karena aku menerimanya, karena kami satu bentuk satu rupa.
Dan kamboja itu?
Kamboja itu tetap akan menjadi kamboja, kecuali jika ia ingin menjadi sepertiku, mungkin ia akan menjadi kamboja yang paling berbeda, paling bahagia. Aku tak pernah menyesal, aku tak pernah menyalahkan kamboja maupun mawar hitam.
Akulah mawar putih yang akhirnya jatuh pada mawar hitam. Putik. Itulah aku. Benang sari, itulah kekasihku.
Kamboja di sana akan tetap menjadi pemandangan indah, walaupun berbeda setidaknya kami memiliki satu hal yang sama. Kami adalah bunga yang mempunyai keindahan yang berbeda. Bunga yang selalu indah di depan mata manusia.
|