<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
					xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
					xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
				  >
<channel>
<title>Blog Copy / Plant Protection</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com</link>
<description><![CDATA[Copies from Plant Protection]]></description>
<image><title>BlogCopy RSS Feed</title>
<link>http://blogcopy.com</link>
<url>http://blogcopy.com/int/fpix.php?bd=4tkd</url>
</image>
<language>en-us</language>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 19:46:48 +0000</pubDate>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MEKANISME PENYERANGAN PATOGEN PADA TUMBUHAN</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbxto</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 18:04:44 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Image copy: http://4.bp.blogspot.com/-jDSbjTHE_u0/Tk6JacpKjOI/AAAAAAAAAJM/iwiDyJVK2uU/s400/Picture2.jpg]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbxto</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM PENYAKIT PADA JAGUNG</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=2t9g403</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:08:10 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Image copy: http://3.bp.blogspot.com/-e2_FCGCrm-c/TlOPmCnlQnI/AAAAAAAAAL8/dD0nFa5K-v0/s400/penyakit+karat+jagung.jpg]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=2t9g403</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM PENYAKIT KEDELAI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=z3y85v</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:07:26 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[MACAM-MACAM PENYAKIT KEDELAI<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
          Author: Qolamul Hasna<br />
|<br />
<br />
<br />
          Filed Under: <br />
penyakit<br />
<br />
|<br />
<br />
<br />
di<br />
22.56<br />
 |<br />
      <br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Karat (Phakopsora pachyrhizi)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Pada daun pertama berupa bercak-bercak berisi uredia (badan buah yang memproduksi spora). Bercak ini berkembang ke daun-daun di atasnya dengan bertambahnya umur tanaman. Bercak terutama terdapat pada permukaan bawah daun. Warna bercak coklat kemerahan seperti warna karat. Bentuk bercak umumnya bersudut banyak berukuran sampai 1 mm. Bercak juga terlihat pada bagian batang dan tangkai daun.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Epidemi didorong oleh panjangnya waktu daun dalam kondisi basah dengan terperatur kurang dari 28 &#176;C. Perkembangan spora dan penetrasi spora membutuhkan air bebas dan terjadi pada suhu 8-28 &#176;C. Uredia muncul 9-10 hari setelah infeksi dan urediniospora diproduksi setelah 3 minggu. Kondisi lembab yang panjang dan periode dingin dibutuhkan untuk menginfeksi daun-daun dan sporulasi. Penyebaran urediniospora dibantu oleh hembusan angin pada waktu hujan. Patogen ini tidak ditularkan melalui benih.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam varietas tahan.<br />
Aplikasi fungisida mankoseb, triadimefon, bitertanol dan difenokonazol<br />
<br />
<br />
<br />
===============================================================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Pustul Bakteri (Xanthomonas axonopodis pv glycines)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Gejala awal berupa bercak kecil berwarna hijau pucat, tampak pada kedua permukaan daun, menonjol pada bagian tengah lalu menjadi bisul warna coklat muda atau putih pada permukaan bawah daun. Gejala ini sering dikacaukan dengan penyakit karat kedelai. Tetapi bercak karat lebih kecil dan sporanya kelihatan jelas. Bercak bervariasi dari bintik kecil sampai besar tak beraturan, berwarna kecoklatan. Bercak kecil bersatu membentuk daerah nekrotik yang mudah robek oleh angin sehingga daun berlubang-lubang. Pada infeksi berat menyebabkan daun gugur.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Bakteri bertahan pada biji, sisa-sisa tanaman dan di daerah perakaran. Beberapa gulma, Dolichos biflorus, buncis subspesies tertentu dan kacang tunggak bisa menjadi inang. Bakteri menyebar melalui air hujan atau hembusan angin pada waktu hujan. Bakteri masuk ke tanaman melalui lubang-lubang alami dan luka pada tanaman.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam benih bebas patogen.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Hindari rotasi dengan buncis dan kacang tunggak.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
===========================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Antraknose (Colletotrichum dematium var truncatum dan C. destructivum)<br />
<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Penyakit Antraknose menyerang batang, polong dan tangkai daun. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu, kadang-kadang bagian-bagian yang terserang tidak menunjukkan gejala. Gejala hanya timbul bila kondisi menguntungkan perkembangan jamur. Tulang daun pada permukaan bawah tanaman terserang biasanya menebal dengan warna kecoklatan. Pada batang akan timbul bintik-bintik hitam berupa duri-duri jamur yang menjadi ciri khasnya.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Patogen bertahan dalam bentuk miselium pada residu tanaman atau pada biji terinfeksi. Miselium menjadi penyebab tanaman terinfeksi tanpa menimbulkan perkembangan gejala sampai tanaman menjelang masak. Infeksi batang dan polong terjadi selama fase reproduksi apabila cuaca lembab dan hangat.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam benih kualitas tinggi dan bebas patogen.<br />
Perawatan benih terutama pada benih terinfeksi.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil, captan pada fase berbunga sampai pengisian polong. <br />
Rotasi dengan tanaman selain kacang-kacangan.<br />
<br />
<br />
======================================================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Downy Mildew (Peronospora manshurica)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Pada permukaan bawah daun timbul bercak warna putih kekuningan, umumnya bulat dengan batas yang jelas, berukuran 1-2 mm. Kadang-kadang bercak menyatu membentuk bercak lebih lebar yang selanjutnya dapat menyebabkan bentuk daun abnormal, kaku dan mirip penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada permukaan bawah daun terutama di pagi hari yang dingin timbul miselium dan konidium.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Peronospora manshurica mampu bertahan sampai beberapa musim dalam bentuk oospora pada daun atau biji, menginfeksi tanaman dalam kondisi dingin dengan gejala klorotik pada daun. Apabila terjadi embun maka sporangium akan terbentuk dan selanjutnya tersebar pada daun baru dengan perantara udara. Perkembangan penyakit didukung oleh kelembaban tinggi dan suhu 20-22 &#176;C. Sporulasi terjadi pada suhu 10-25 &#176;C. Pada suhu di atas 30 &#176;C atau di bawah 10 &#176;C sporulasi tidak terjadi. Daun-daun lebih tahan terhadap infeksi dengan bertambahnya umur tanaman dan pada suhu tinggi. Apabila jumlah bercak kuning bertambah maka ukuran daun makin menyusut.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Perawatan benih dengan fungisida.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Rotasi tanam selama 1 tahun atau lebih.<br />
<br />
<br />
<br />
====================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
 <br />
Penyakit Target Spot (Corynespora cassiicola)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
<br />
Bercak coklat kemerahan timbul pada daun, batang, polong, biji, hipokotil dan akar dengan diameter 10-15 mm. Kadang-kadang mengalami sonasi, yaitu membentuk lingkaran seperti pada papan tembak (target).<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Patogen bertahan pada batang, akar, biji dan mampu bertahan di dalam tanah yang tidak diusahakan selama lebih dari 2 tahun. Infeksi hanya terjadi bila kelembaban udara relatif 80% atau lebih atau terjadi air bebas di atas daun. Cuaca kering menghambat pertumbuhan jamur pada daun dan akar. Infeksi pada batang dan akar terjadi pada awal fase pertumbuhan tanaman. Gejala terlihat pada 3 minggu setelah tanaman tumbuh. Suhu tanah optimal untuk menginfeksi dan perkembangan penyakit selanjutnya adalah 15-18 &#176;C. Pada suhu 20 &#176;C gejala penyakit tidak terlalu parah dan akar terbentuk normal. Patogen dapat hidup dan menyerang bermacam-macam tumbuhan (kosmopolitan) dan di negara tropis keberadaannya sangat melimpah.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Perawatan benih terutama pada biji terinfeksi.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil dan kaptan.<br />
<br />
<br />
<br />
===============================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Rebah Kecambah, Busuk Daun, Batang dan Polong (Rhizoctonia solani)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Penyakit-penyakit yang disebabkan R. solani mencakup rebah kecambah, busuk atau hawar daun, polong dan batang. Pada tanaman yang baru tumbuh terjadi busuk (hawar) di dekat akar, kemudian menyebabkan tanaman mati karena rebah. Pada daun, batang dan polong timbul hawar dengan arah serangan dari bawah ke atas. Bagian tanaman yang terserang berat akan kering. Pada kondisi yang sangat lembab timbul miselium yang menyebabkan daun-daun akan lengket satu sama lain menyerupai sarang laba-laba (web blight).<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Jamur R. solani membentuk sklerotia warna coklat hingga hitam dengan bentuk tidak beraturan dengan ukuran sampai 0,5 mm. Jamur ini mempunyai banyak tanaman inang dari tanaman pangan, sayuran, buah dan tanaman hias sehingga sulit dikendalikan. R. solani tinggal di tanah yang mempunyai kemampuan saprofit tinggi, mampu hidup 3 bulan pada kultur kering dan 4 bulan pada kultur cair. R. solani bertahan hidup tanpa tanaman inang serta hidup saprofit pada semua jenis sisa tanaman. R. solani dapat menimbulkan epidermi pada daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca hangat. Jamur dapat hidup bertahan lama di dalam tanah yang merupakan sumber inokulum yang penting.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Perawatan benih dengan fungisida dan aplikasi fungisida sistemik.<br />
Mempertahankan drainase tetap baik.<br />
<br />
<br />
<br />
==========================================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Hawar Batang (Sclerotium rolfsii)<br />
<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Infeksi terjadi pada pangkal batang atau sedikit di bawah permukaan tanah berupa bercak coklat tua/warna gelap dan meluas sampai ke hipokotil. Gejala layu mendadak merupakan gejala pertama yang timbul. Daun-daun yang terinfeksi mula-mula berupa bercak bulat berwarna merah sampai coklat dengan pinggir berwarna coklat tua, kemudian mengering dan sering menempel pada batang mati. Gejala khas patogen ini adalah miselium putih yang terbentuk pada pangkal batang, sisa daun dan pada tanah di sekeliling tanaman sakit. Miselium tersebut menjalar ke atas batang sampai beberapa centimeter.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Tanaman kedelai peka terhadap jamur ini sejak mulai tumbuh sampai pengisian polong. Kondisi lembab dan panas memacu perkembangan miselium yang kemudian hilang bila keadaan berubah menjadi kering. Pada keadaan lembab sekali akan terbentuk sklerotia yang berbentuk bulat seperti biji sawi dengan diameter 1-1,5 mm. Karena mempunyai lapisan dinding yang keras, sklerotium dapat dipakai untuk mempertahankan diri terhadap kekeringan, suhu tinggi dan hal lain yang merugikan. Penyakit banyak terjadi tetapi jarang berakibat serius, namun pernah mengakibatkan penurunan hasil yang cukup tinggi pada kedelai yang ditanam secara monokultur atau rotasi pendek dengan tanaman yang peka.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Memperbaiki pengolahan tanah dan drainase.<br />
Perawatan benih dengan fungisida.<br />
<br />
<br />
<br />
=============================================================================================================<br />
<br />
Penyakit Hawar, Bercak Daun dan Bercak Biji Ungu (Cercospora kikuchii)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Gejala pada daun, batang dan polong sulit dikenali sehingga pada polong yang normal mungkin bijinya sudah terinfeksi. Gejala awal pada daun timbul saat pengisian biji dengan kenampakan warna ungu muda yang selanjutnya menjadi kasar, kaku dan berwarna ungu kemerahan. Bercak berbentuk menyudut sampai tidak beraturan dengan ukuran yang beragam dari sebuah titik sebesar jarum sampai 10 mm dan menyatu menjadi bercak yang lebih besar. Gejala mudah diamati pada biji yang terserang yaitu timbul bercak berwarna ungu. Biji mengalami diskolorasi dengan warna yang bervariasi dari merah muda atau ungu pucat sampai ungu tua dan berbentuk titik sampai tidak beraturan dan membesar.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
C. kikuchii bersporulasi melimpah pada suhu 23-27 &#176;C dalam waktu 3-5 hari pada jaringan terinfeksi termasuk biji. Penyakit ini tidak menurunkan hasil secara langsung tetapi mampu menurunkan kualitas biji dengan adanya bercak ungu yang kadang-kadang mencapai 50% permukaan biji. Inokulum pertama dari biji atau jaringan tanaman terinfeksi yang berasal dari pertanaman sebelumnya. Di lapangan dengan temperatur 28-30 &#176;C disertai kelembaban tinggi cukup lama akan memacu perkembangan penyakit bercak dan hawar daun. Di ruang dengan kelembaban tinggi, infeksi penyakit maksimum terjadi dalam kondisi bergantian antara 12 jam terang dan gelap pada suhu 20-24 &#176;C. Infeksi penyakit meningkat dengan bertambah panjangnya periode embun dan pada varietas yang berumur pendek penyakit akan lebih parah.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam benih yang sehat/bersih.<br />
Perawatan benih dengan fungisida.<br />
Aplikasi fungisida sistemik.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
=================================================================================================<br />
<br />
Penyakit Virus Mosaik (SMV)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Tulang daun pada daun yang masih muda menjadi kurang jernih. Selanjutnya daun berkerut dan mempunyai gambaran mosaik dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun. Tepi daun sering mengalami klorosis. Tanaman yang terinfeksi SMV ukuran bijinya mengecil dan jumlah biji berkurang sehingga hasil biji turun. Bila penularan virus terjadi pada tanaman muda, penurunan hasil berkisar antara 50-90%. Penurunan hasil sampai 93% telah dilaporkan pada lahan percobaan yang dilakukan inokulasi virus mosaik kedelai.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
SMV dapat menginfeksi tanaman kacang-kacangan: kedelai, buncis, kacang panjang, kapri (Pisum sativum), orok-orok (Crotalaria sp.) dan berbagai jenis kara (Dolichos lablab, Canavalia encitormis dan Mucana sp.). Virus SMV tidak aktif pada suhu 55-70 &#176;C dan tetap infektif pada daun kedelai kering selama 7 hari pada suhu 25-33 &#176;C. Partikel SMV sukar dimurnikan kerena cepat mengalami egregasi.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Mengurangi sumber penularan virus.<br />
Menekan populasi serangga vektor.<br />
Menanam varietas toleran.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Daftar Pustaka<br />
<br />
Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2006. Hama, Penyakit dan Masalah Hara pada Tanaman Kedelai. Identifikasi dan Pengendaliannya. Bogo]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=z3y85v</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM HAMA TANAMAN TEMBAKAU</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc71by</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:05:12 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Ulat Grayak ( Spodoptera litura )<br />
<br />
Ulat grayak (Spodoptera litura F). Serangan terjadi pada malam hari biasanya bergerombol di pembibitan maupun di pertanaman. Dari stadia telur sampai menjadi larva instar 5 yang dapat menyerang tanaman memerlukan waktu 22 - 60 hari.&#160;<br />
<br />
Gejala yang timbul:<br />
<br />
berupa lubang-lubang tidak beraturan dan berwarna putih pada luka bekas gigitan ulat tersebut.<br />
<br />
Pengendalian:<br />
<br />
Pangkas dan bakar sarang telur dan ulat, penggenangan sesaat pada pagi/sore hari, dan semprot Natural VITURA<br />
<br />
<br />
<br />
Ulat Tanah ( Agrotis ypsilon )<br />
<br />
Gejala yang timbul:<br />
<br />
daun terserang berlubang-lubang terutama daun muda sehingga ada tangkai daun&#160;<br />
<br />
rebah.<br />
<br />
Pengendalian:<br />
<br />
Pangkas daun sarang telur/ulat, penggenangan sesaat dan semprot PESTONA.<br />
<br />
Ulat penggerek pucuk ( Heliothis sp. )<br />
<br />
<br />
Ulat Pucuk Tembakau (Helicoverpa assulta Genn dan Helicoverpa armigera Hubner). Gejala serangan terlihat dari daun tembakau yang berlubang-lubang karena ulat memakan pucuk daun dan daun atas. Pada saat serangan terjadi gejala tersebut belum nampak dan gejala akan nampak jelas setelah daun tembakau membesar. Tanaman inang lain adalah kapas, jagung, tomat, kedelai, buncis, asparagus dan jarak.&#160;<br />
<br />
<br />
Cara Pengendalian:&#160;<br />
<br />
Tanaman yang terserang ulat pupus daun disemprot dengan insektisida seperti permetrin 2 g/liter atau betasiflutrin 25 g/liter.&#160;<br />
<br />
Pengendalian:<br />
<br />
kumpulkan dan musnah telur / ulat, sanitasi kebun dan semprot PESTONA.<br />
<br />
<br />
<br />
Nematoda ( Meloydogyne sp. )<br />
<br />
Gejala yang timbul:<br />
<br />
Bagian akar tanaman tampak bisul-bisul bulat, tanaman bisa kerdil, layu, daun berguguran dan akhirnya akan mati.<br />
<br />
Pengendalian:<br />
<br />
Sanitasi kebun, pemberian GLIO diawal tanam, PESTONA<br />
<br />
<br />
<br />
Kutu &#8211; kutuan ( Aphis Sp, Thrips sp, Bemisia sp.)<br />
<br />
Hama ini pembawa penyakit yang disebabkan virus.<br />
<br />
Pengendalian:<br />
<br />
Predator Koksinelid, Natural BVR.&#160;Gangsir (Gryllus mitratus ), jangkrik (Brachytrypes portentosus), orong-orong (Gryllotalpa africana), semut geni (Solenopsis geminata), belalang banci (Engytarus tenuis).<br />
<br />
<br />
<br />
Kutu Tembakau (Myzus persicae).&#160;<br />
<br />
Kutu ini merusak tanaman tembakau karena mengisap cairan daun tanaman, menyerang di pembibitan dan pertanaman, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. Kutu ini menghasilkan embun madu yang menyebabkan daun menjadi lengket dan ditumbuhi cendawan berwarna hitam. Kutu daun secara fisik mempengaruhi warna, aroma dan tekstur dan selanjutnya akan mengurangi mutu dan harga. Secara Khemis kutu daun mengurangi kandungan alkoloid, gula, rasio gula alkoloid dan maningkatkan total nitrogen daun. Kutu daun dapat menyebabkan kerugian sampai 50 %, kutu daun dapat menyebabkan kerugian 22 - 28 % pada tembakau flue-cured.&#160;<br />
<br />
Cara pengendalian :<br />
<br />
mengurangi pemupukan N dan melakukan penyemprotan insektisida yaitu apabila lebih besar dari 10 % tanaman dijumpai koloni kutu tembakau (setiap koloni sekitar 50 ekor kutu). Pestisida yang digunakan yaitu jenis imidaklorid.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kutu Putih (Bemisia tabaci Genn).&#160;<br />
<br />
<br />
<br />
Baik kutu dewasa maupun nimfanya mengisap cairan daun sehingga daun menjadi rusak. Disamping merusak daun, kutu ini juga menjadi vektor bagi virus krupuk atau penyakit mosaik tembakau.&#160;<br />
<br />
<br />
<br />
Cara pengendalian :<br />
<br />
<br />
<br />
sanitasi lahan dan meyemprot dengan insektisida Klorpirifos.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc71by</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM HAMA TANAMAN TEMBAKAU</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc711y</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:04:03 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Image copy: http://2.bp.blogspot.com/_6pbSFKC8YH4/SdonnsGTw0I/AAAAAAAAAf4/JsaCpljuuK8/s1600/head4.png]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc711y</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM HAMA TANAMAN TEMBAKAU</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=46vkhyr</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:03:53 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Image copy: http://2.bp.blogspot.com/_6pbSFKC8YH4/SdonnsGTw0I/AAAAAAAAAf4/JsaCpljuuK8/s1600/head4.png]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=46vkhyr</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM PENYAKIT KEDELAI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=z3y6cv</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:58:17 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[MACAM-MACAM PENYAKIT KEDELAI<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
          Author: Qolamul Hasna<br />
|<br />
<br />
<br />
          Filed Under: <br />
penyakit<br />
<br />
|<br />
<br />
<br />
di<br />
22.56<br />
 |<br />
      <br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Karat (Phakopsora pachyrhizi)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Pada daun pertama berupa bercak-bercak berisi uredia (badan buah yang memproduksi spora). Bercak ini berkembang ke daun-daun di atasnya dengan bertambahnya umur tanaman. Bercak terutama terdapat pada permukaan bawah daun. Warna bercak coklat kemerahan seperti warna karat. Bentuk bercak umumnya bersudut banyak berukuran sampai 1 mm. Bercak juga terlihat pada bagian batang dan tangkai daun.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Epidemi didorong oleh panjangnya waktu daun dalam kondisi basah dengan terperatur kurang dari 28 &#176;C. Perkembangan spora dan penetrasi spora membutuhkan air bebas dan terjadi pada suhu 8-28 &#176;C. Uredia muncul 9-10 hari setelah infeksi dan urediniospora diproduksi setelah 3 minggu. Kondisi lembab yang panjang dan periode dingin dibutuhkan untuk menginfeksi daun-daun dan sporulasi. Penyebaran urediniospora dibantu oleh hembusan angin pada waktu hujan. Patogen ini tidak ditularkan melalui benih.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam varietas tahan.<br />
Aplikasi fungisida mankoseb, triadimefon, bitertanol dan difenokonazol<br />
<br />
<br />
<br />
===============================================================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Pustul Bakteri (Xanthomonas axonopodis pv glycines)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Gejala awal berupa bercak kecil berwarna hijau pucat, tampak pada kedua permukaan daun, menonjol pada bagian tengah lalu menjadi bisul warna coklat muda atau putih pada permukaan bawah daun. Gejala ini sering dikacaukan dengan penyakit karat kedelai. Tetapi bercak karat lebih kecil dan sporanya kelihatan jelas. Bercak bervariasi dari bintik kecil sampai besar tak beraturan, berwarna kecoklatan. Bercak kecil bersatu membentuk daerah nekrotik yang mudah robek oleh angin sehingga daun berlubang-lubang. Pada infeksi berat menyebabkan daun gugur.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Bakteri bertahan pada biji, sisa-sisa tanaman dan di daerah perakaran. Beberapa gulma, Dolichos biflorus, buncis subspesies tertentu dan kacang tunggak bisa menjadi inang. Bakteri menyebar melalui air hujan atau hembusan angin pada waktu hujan. Bakteri masuk ke tanaman melalui lubang-lubang alami dan luka pada tanaman.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam benih bebas patogen.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Hindari rotasi dengan buncis dan kacang tunggak.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
===========================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Antraknose (Colletotrichum dematium var truncatum dan C. destructivum)<br />
<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Penyakit Antraknose menyerang batang, polong dan tangkai daun. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu, kadang-kadang bagian-bagian yang terserang tidak menunjukkan gejala. Gejala hanya timbul bila kondisi menguntungkan perkembangan jamur. Tulang daun pada permukaan bawah tanaman terserang biasanya menebal dengan warna kecoklatan. Pada batang akan timbul bintik-bintik hitam berupa duri-duri jamur yang menjadi ciri khasnya.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Patogen bertahan dalam bentuk miselium pada residu tanaman atau pada biji terinfeksi. Miselium menjadi penyebab tanaman terinfeksi tanpa menimbulkan perkembangan gejala sampai tanaman menjelang masak. Infeksi batang dan polong terjadi selama fase reproduksi apabila cuaca lembab dan hangat.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam benih kualitas tinggi dan bebas patogen.<br />
Perawatan benih terutama pada benih terinfeksi.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil, captan pada fase berbunga sampai pengisian polong. <br />
Rotasi dengan tanaman selain kacang-kacangan.<br />
<br />
<br />
======================================================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Downy Mildew (Peronospora manshurica)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Pada permukaan bawah daun timbul bercak warna putih kekuningan, umumnya bulat dengan batas yang jelas, berukuran 1-2 mm. Kadang-kadang bercak menyatu membentuk bercak lebih lebar yang selanjutnya dapat menyebabkan bentuk daun abnormal, kaku dan mirip penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada permukaan bawah daun terutama di pagi hari yang dingin timbul miselium dan konidium.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Peronospora manshurica mampu bertahan sampai beberapa musim dalam bentuk oospora pada daun atau biji, menginfeksi tanaman dalam kondisi dingin dengan gejala klorotik pada daun. Apabila terjadi embun maka sporangium akan terbentuk dan selanjutnya tersebar pada daun baru dengan perantara udara. Perkembangan penyakit didukung oleh kelembaban tinggi dan suhu 20-22 &#176;C. Sporulasi terjadi pada suhu 10-25 &#176;C. Pada suhu di atas 30 &#176;C atau di bawah 10 &#176;C sporulasi tidak terjadi. Daun-daun lebih tahan terhadap infeksi dengan bertambahnya umur tanaman dan pada suhu tinggi. Apabila jumlah bercak kuning bertambah maka ukuran daun makin menyusut.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Perawatan benih dengan fungisida.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Rotasi tanam selama 1 tahun atau lebih.<br />
<br />
<br />
<br />
====================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
 <br />
Penyakit Target Spot (Corynespora cassiicola)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
<br />
Bercak coklat kemerahan timbul pada daun, batang, polong, biji, hipokotil dan akar dengan diameter 10-15 mm. Kadang-kadang mengalami sonasi, yaitu membentuk lingkaran seperti pada papan tembak (target).<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Patogen bertahan pada batang, akar, biji dan mampu bertahan di dalam tanah yang tidak diusahakan selama lebih dari 2 tahun. Infeksi hanya terjadi bila kelembaban udara relatif 80% atau lebih atau terjadi air bebas di atas daun. Cuaca kering menghambat pertumbuhan jamur pada daun dan akar. Infeksi pada batang dan akar terjadi pada awal fase pertumbuhan tanaman. Gejala terlihat pada 3 minggu setelah tanaman tumbuh. Suhu tanah optimal untuk menginfeksi dan perkembangan penyakit selanjutnya adalah 15-18 &#176;C. Pada suhu 20 &#176;C gejala penyakit tidak terlalu parah dan akar terbentuk normal. Patogen dapat hidup dan menyerang bermacam-macam tumbuhan (kosmopolitan) dan di negara tropis keberadaannya sangat melimpah.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Perawatan benih terutama pada biji terinfeksi.<br />
Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.<br />
Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil dan kaptan.<br />
<br />
<br />
<br />
===============================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Rebah Kecambah, Busuk Daun, Batang dan Polong (Rhizoctonia solani)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Penyakit-penyakit yang disebabkan R. solani mencakup rebah kecambah, busuk atau hawar daun, polong dan batang. Pada tanaman yang baru tumbuh terjadi busuk (hawar) di dekat akar, kemudian menyebabkan tanaman mati karena rebah. Pada daun, batang dan polong timbul hawar dengan arah serangan dari bawah ke atas. Bagian tanaman yang terserang berat akan kering. Pada kondisi yang sangat lembab timbul miselium yang menyebabkan daun-daun akan lengket satu sama lain menyerupai sarang laba-laba (web blight).<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Jamur R. solani membentuk sklerotia warna coklat hingga hitam dengan bentuk tidak beraturan dengan ukuran sampai 0,5 mm. Jamur ini mempunyai banyak tanaman inang dari tanaman pangan, sayuran, buah dan tanaman hias sehingga sulit dikendalikan. R. solani tinggal di tanah yang mempunyai kemampuan saprofit tinggi, mampu hidup 3 bulan pada kultur kering dan 4 bulan pada kultur cair. R. solani bertahan hidup tanpa tanaman inang serta hidup saprofit pada semua jenis sisa tanaman. R. solani dapat menimbulkan epidermi pada daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca hangat. Jamur dapat hidup bertahan lama di dalam tanah yang merupakan sumber inokulum yang penting.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Perawatan benih dengan fungisida dan aplikasi fungisida sistemik.<br />
Mempertahankan drainase tetap baik.<br />
<br />
<br />
<br />
==========================================================================================================<br />
<br />
<br />
<br />
Penyakit Hawar Batang (Sclerotium rolfsii)<br />
<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Infeksi terjadi pada pangkal batang atau sedikit di bawah permukaan tanah berupa bercak coklat tua/warna gelap dan meluas sampai ke hipokotil. Gejala layu mendadak merupakan gejala pertama yang timbul. Daun-daun yang terinfeksi mula-mula berupa bercak bulat berwarna merah sampai coklat dengan pinggir berwarna coklat tua, kemudian mengering dan sering menempel pada batang mati. Gejala khas patogen ini adalah miselium putih yang terbentuk pada pangkal batang, sisa daun dan pada tanah di sekeliling tanaman sakit. Miselium tersebut menjalar ke atas batang sampai beberapa centimeter.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
Tanaman kedelai peka terhadap jamur ini sejak mulai tumbuh sampai pengisian polong. Kondisi lembab dan panas memacu perkembangan miselium yang kemudian hilang bila keadaan berubah menjadi kering. Pada keadaan lembab sekali akan terbentuk sklerotia yang berbentuk bulat seperti biji sawi dengan diameter 1-1,5 mm. Karena mempunyai lapisan dinding yang keras, sklerotium dapat dipakai untuk mempertahankan diri terhadap kekeringan, suhu tinggi dan hal lain yang merugikan. Penyakit banyak terjadi tetapi jarang berakibat serius, namun pernah mengakibatkan penurunan hasil yang cukup tinggi pada kedelai yang ditanam secara monokultur atau rotasi pendek dengan tanaman yang peka.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Memperbaiki pengolahan tanah dan drainase.<br />
Perawatan benih dengan fungisida.<br />
<br />
<br />
<br />
=============================================================================================================<br />
<br />
Penyakit Hawar, Bercak Daun dan Bercak Biji Ungu (Cercospora kikuchii)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Gejala pada daun, batang dan polong sulit dikenali sehingga pada polong yang normal mungkin bijinya sudah terinfeksi. Gejala awal pada daun timbul saat pengisian biji dengan kenampakan warna ungu muda yang selanjutnya menjadi kasar, kaku dan berwarna ungu kemerahan. Bercak berbentuk menyudut sampai tidak beraturan dengan ukuran yang beragam dari sebuah titik sebesar jarum sampai 10 mm dan menyatu menjadi bercak yang lebih besar. Gejala mudah diamati pada biji yang terserang yaitu timbul bercak berwarna ungu. Biji mengalami diskolorasi dengan warna yang bervariasi dari merah muda atau ungu pucat sampai ungu tua dan berbentuk titik sampai tidak beraturan dan membesar.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
C. kikuchii bersporulasi melimpah pada suhu 23-27 &#176;C dalam waktu 3-5 hari pada jaringan terinfeksi termasuk biji. Penyakit ini tidak menurunkan hasil secara langsung tetapi mampu menurunkan kualitas biji dengan adanya bercak ungu yang kadang-kadang mencapai 50% permukaan biji. Inokulum pertama dari biji atau jaringan tanaman terinfeksi yang berasal dari pertanaman sebelumnya. Di lapangan dengan temperatur 28-30 &#176;C disertai kelembaban tinggi cukup lama akan memacu perkembangan penyakit bercak dan hawar daun. Di ruang dengan kelembaban tinggi, infeksi penyakit maksimum terjadi dalam kondisi bergantian antara 12 jam terang dan gelap pada suhu 20-24 &#176;C. Infeksi penyakit meningkat dengan bertambah panjangnya periode embun dan pada varietas yang berumur pendek penyakit akan lebih parah.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Menanam benih yang sehat/bersih.<br />
Perawatan benih dengan fungisida.<br />
Aplikasi fungisida sistemik.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
=================================================================================================<br />
<br />
Penyakit Virus Mosaik (SMV)<br />
<br />
Gejala Serangan<br />
<br />
Tulang daun pada daun yang masih muda menjadi kurang jernih. Selanjutnya daun berkerut dan mempunyai gambaran mosaik dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun. Tepi daun sering mengalami klorosis. Tanaman yang terinfeksi SMV ukuran bijinya mengecil dan jumlah biji berkurang sehingga hasil biji turun. Bila penularan virus terjadi pada tanaman muda, penurunan hasil berkisar antara 50-90%. Penurunan hasil sampai 93% telah dilaporkan pada lahan percobaan yang dilakukan inokulasi virus mosaik kedelai.<br />
<br />
Siklus Penyakit dan Epidemiologi<br />
<br />
SMV dapat menginfeksi tanaman kacang-kacangan: kedelai, buncis, kacang panjang, kapri (Pisum sativum), orok-orok (Crotalaria sp.) dan berbagai jenis kara (Dolichos lablab, Canavalia encitormis dan Mucana sp.). Virus SMV tidak aktif pada suhu 55-70 &#176;C dan tetap infektif pada daun kedelai kering selama 7 hari pada suhu 25-33 &#176;C. Partikel SMV sukar dimurnikan kerena cepat mengalami egregasi.<br />
<br />
Pengendalian<br />
<br />
Mengurangi sumber penularan virus.<br />
Menekan populasi serangga vektor.<br />
Menanam varietas toleran.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Daftar Pustaka<br />
<br />
Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2006. Hama, Pen]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=z3y6cv</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM PENYAKIT PADA JAGUNG</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1w6ow98</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:19:58 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Image copy: http://2.bp.blogspot.com/-o_LLEIw-4WI/TlOPYzLdTHI/AAAAAAAAAL0/c8sfpXbwxr0/s400/downy+mildew.jpg]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1w6ow98</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM PENYAKIT PADA JAGUNG</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc6rtg</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:19:23 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Sclerospora maydis]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc6rtg</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbedo</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:15:55 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Epidemik (epidemic) berarti peningkatan insiden penyakit (disease incidence) atau&#160;terjadi perkembangan penyakit dalam suatu populasi tanaman per satuan waktu per&#160;satuan luas (van der Plank, 1963). Zadock & Schein (1979) mengemukakan bahwa&#160;epidemik sebagai pertambahan penyakit dalam suatu populasi tanaman per satuan&#160;waktu per satuan luas. Pengertian epidemik tersebut digunakan untuk menunjukkan&#160;dinamika penyakit dalam populasi tanaman tanpa mempertimbangkan keganasannya.&#160;Epidemi terjadi pada jangka waktu tertentu, atau tidak selalu terjadi pada setiap&#160;waktu. Epidemi terjadi pada tempat, ruang, wilayah tertentu, atau tidak merata di&#160;setiap tempat. Suatu penyakit yang terdapat merata, terjadi terus menerus di setiap&#160;musim dan berasal dari daerah yang bersangkutan, tidak dianggap sebagai penyakit&#160;epidemik, tetapi penyakit endemik. Penyakit exotik terdapat merata tetapi berasal dari&#160;daerah lain. Suatu penyakit yang merata di seluruh benua atau dunia disebut&#160;pandemik, tetapi jika penyakit hanya terdapat di sana-sini dengan selang waktu yang&#160;tidak tertentu dan tidak meningkat disebut sporadik.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbedo</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=46vk7r9</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:14:58 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Menurut van der Plank (1963) epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari&#160;penyakit dalam populasi]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=46vk7r9</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbdto</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:13:53 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Beberapa istilah yang berhubungan dengan epidemi sering saling dipahami&#160;berbeda. Istilah yang lebih tepat untuk &#8216;pewabahan penyakit tanaman&#8217; yaitu&#160;epifitotik (epos = diantara, pada, mengenai phyton = pohon = tanaman), tetapi istilah&#160;ini kurang mendapat perhatian, sehingga sampai sekarang dalam ilmu penyakit&#160;tanaman, pewabahannya tetap digunakan istilah &#8216;epidemi&#8217; sebagai kata benda dan&#160;&#8216;epidemik&#8217; sebagai kata sifat yang sudah sangat luas dan dikenal masyarakat.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbdto</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1w6ounq</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:13:16 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Pengertian lengkap tentang epidemiologi penyakit tanaman merupakan cabang&#160;ilmu penyakit tanaman yang membahas tentang fenomena populasi tanaman inang&#160;dan populasi patogen dengan memperhatikan interaksinya yang dipengaruhi oleh&#160;faktor-faktor fisik, biotik dan manusia yang terjadi dalam areal dan waktu tertentu&#160;yang berakibat merugikan tanaman yang dianalisis secara kuantitatif tentang&#160;bagaimana pewabahannya.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1w6ounq</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=39st93w</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:11:14 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Kata epidemi berasal dari bahasa Yunani, tersusun atas dua kata dasar yaitu :<br />
&#8220;epos&#8221; yang artinya diantara, pada, atau mengenai dan &#8220;demos&#8221; yang artinya rakyat,&#160;banyak, atau populasi. Dengan menggunakan pengertian analogi maka, epidemiologi&#160;penyakit tanaman berarti ilmu yang mempelajari penyakit yang banyak&#160;berkembang pada populasi tanaman atau mempelajari penyakit tanaman yang&#160;(mungkin) berkembang menjadi mewabah. Petani mengusahakan tanaman sebagai&#160;pertanaman, atau kelompok (populasi) tanaman, sehingga kerugian yang diderita&#160;oleh petani terjadi pada aras (level) populasi. Oleh karena itu, epidemiologi selalu&#160;mempertimbangkan penyakit dalam populasi tanaman.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=39st93w</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=2cq29z1</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 16:04:11 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI<br />
<br />
Kata epidemi berasal dari bahasa Yunani, tersusun atas dua kata dasar yaitu :<br />
&#8220;epos&#8221; yang artinya diantara, pada, atau mengenai dan &#8220;demos&#8221; yang artinya rakyat,&#160;banyak, atau populasi. Dengan menggunakan pengertian analogi maka, epidemiologi&#160;penyakit tanaman berarti ilmu yang mempelajari penyakit yang banyak&#160;berkembang pada populasi tanaman atau mempelajari penyakit tanaman yang&#160;(mungkin) berkembang menjadi mewabah. Petani mengusahakan tanaman sebagai&#160;pertanaman, atau kelompok (populasi) tanaman, sehingga kerugian yang diderita&#160;oleh petani terjadi pada aras (level) populasi. Oleh karena itu, epidemiologi selalu&#160;mempertimbangkan penyakit dalam populasi tanaman.<br />
<br />
<br />
<br />
Menurut van der Plank (1963) epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari&#160;penyakit dalam populasi. Kranz (1973) menambahkan adanya faktor pengaruh&#160;lingkungan dan perilaku manusia di dalamnya, kemudian dilengkapi oleh Zadock&#160;(1979) bahwa proses tersebut terjadi dalam waktu dan ruang tertentu yang&#160;mempunyai saat awal, optimal dan akhir, sehingga populasi patogen merupakan&#160;fungsi dari waktu ( X = ft ). Menurut Oka (1993) epidemiologi adalah studi&#160;kuantitatif tentang perkembangan penyakit dalam ruang dan dalam jangka waktu&#160;tertentu sebagai akibat interaksi antara populasi inang dengan populasi patogen yang&#160;dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik, biotik dan manusia.<br />
<br />
Pengertian lengkap tentang epidemiologi penyakit tanaman merupakan cabang&#160;ilmu penyakit tanaman yang membahas tentang fenomena populasi tanaman inang&#160;dan populasi patogen dengan memperhatikan interaksinya yang dipengaruhi oleh&#160;faktor-faktor fisik, biotik dan manusia yang terjadi dalam areal dan waktu tertentu&#160;yang berakibat merugikan tanaman yang dianalisis secara kuantitatif tentang&#160;bagaimana pewabahannya.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=2cq29z1</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: EPIDEMIOLOGI</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbb46</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 15:58:07 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Kranz (1973) menambahkan adanya faktor pengaruh&#160;lingkungan dan perilaku manusia di dalamnya, kemudian dilengkapi oleh Zadock&#160;(1979) bahwa proses tersebut terjadi dalam waktu dan ruang tertentu yang&#160;mempunyai saat awal, optimal dan akhir, sehingga populasi patogen merupakan&#160;fungsi dari waktu ( X = ft ). Menurut Oka (1993) epidemiologi adalah studi&#160;kuantitatif tentang perkembangan penyakit dalam ruang dan dalam jangka waktu&#160;tertentu sebagai akibat interaksi antara populasi inang dengan populasi patogen yang&#160;dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik, biotik dan manusia.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnbb46</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM PENYAKIT PISANG</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=ikkbht</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 15:48:02 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[dr ANNISA RATU AQILAH, sp.ME]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=ikkbht</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM HAMA TANAMAN KUBIS</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc6m1y</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 15:48:01 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Phyllotreta vittata F.<br />
<br />
Serangga hama ini dikenal dengan kumbang anjing atau leaf beetle, termasuk ordo Coleoptera, famili Chrysomelidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Kumbang ini berwarna coklat kehitaman dengan sayap bergaris kuning. Panjang kumbang 2 mm. Telur diletakkan berkelompok pada kedalaman l-3 cm di tanah.Panjang larva 3-4 mm. Pupanya berada pada kedalaman tanah 5 cm. Daur hidupnya 3-4 minggu. Daun kubis yang terserang P. vittata berlubang-lubang kecil. Larvanya seringkali merusak bagian dasar tanaman dekat dengan permukaan. Tanaman inang P. vittata adalah petsai, lobak, dan sawi.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=3qc6m1y</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM HAMA TANAMAN KUBIS</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=46vk2yr</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 15:47:46 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Hellula undalis (F.)<br />
<br />
Serangga hama ini dikenal dengan ulat krop bergaris atau striped cabbage heart caterpillar, termasuk ordo Lepidoptera, famili Pyralidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia.<br />
<br />
Ngengat H undalis berwarna kelabu dan pada sayap depan terdapat garis-garis pucat serta titik-titik. Larvanya berwarna kuning kecoklatan dengan kepala hitam dan pada badannya terdapat enam garis yang memanjang berwarna coklat. Pupanya di tanah terbungkus kokon, tertutup oleh partikel tanah. Daur hidupnya 23-25 hari. Serangan larva muda seperti serangan yang disebabkan oleh Plutela sp. dan gejala serangan larva tua seperti gejala serangan Crocidolomia sp. Tanaman inang H.undalis adalah Petsai, sawi, lobak, dan, kubis tunas.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=46vk2yr</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: MACAM-MACAM HAMA TANAMAN KUBIS</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnb98o</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 15:47:27 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[Crocidololia binotalis Zell.<br />
<br />
Serangga hama ini dikenal dengan ulat krop kubis atau large cabbage heart caterpillar, termasuk ordo Lepidoptera, farnili Pyralidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia.<br />
<br />
Ngengat C. binotalis berwarna kelabu kecoklatan dengan rentangan sayap 20 mm dan panjang 13 mm.<br />
Telur diletakkan secara berkelompok pada daun dengan stadium 4 hari. Larvanya berwarna coklat sampai hijau tua. Stadium larva 14 hari. Pupanya berada dalam tanah. Daur hidup 24-32 hari.<br />
Larva C. binotalis merusak kubis yang sedang membentuk krop, sehingga daun kubis berlubang-lubang.Kerusakan ringan berakibat menurunnya kualitas kubis sedang kerusakan berat menyebabkan tanaman kubis tidak dapat dipanen. Tanaman inang C. binotalis adalah petsai dan kubis-kubisan.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnb98o</guid>
</item>
<item>
<title>PLANT PROTECTION: DEFINISI DAN MACAM HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN (umum)</title>
<link>http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnb966</link>
<pubDate>Wed, 22 May 2013 15:47:03 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[f) Jika terdapat gejala &#8211; gejala yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah, ranting) yang terserang, kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau tumbuhan yang lainnya.<br />
<br />
g) Penggunaan pertisida sebagai alternative terakhir untuk pengobatan hama dan penyakit pada tumbuhan.]]></description>
<guid isPermaLink="true" >http://blogcopy.com/~planthospital.blogspot.com?copy=1fnb966</guid>
</item>
</channel>
</rss>